PIKA adalah “Kebun Kaju” (KK) yang dirintis sejak 25 maret 1953 oleh Br. Josef Haeken, SJ dibantu seorang pemuda R. Soermano (tangan kanan Br. Haeken, SJ) yang pada waktu itu berusia 22 tahun. KK semula hanya berupa bengkel penggergajian sederhana. Bengkel ini merupakan tempat untuk memperbaiki perabot dari sekolah misi, gereja dan biara – biara yang rusak akibat perang kemerdekaan. Dalam 10 tahun pertama pekerjaan datang dari sekolah-sekolah Yayasan Kanisius dan biara – biara Katolik. Kemudian pesanan dari pemborong bangunanpun silih berganti berdatangan masuk ke KK, mereka adalah : NEDAM Jakarta ( untuk pabrik Cambridge Medari Jogyakarta ), Ir. Tjoa Teng Kie ( untuk rumah gadai ), Bouw Maatschapy Randusari, Tan Hiem Hong ( untuk rumah retret sangkal putung Klaten ), perluasan rumah retret Girisonta Ungaran. Ir Liem Tiong Hien ( untuk susteran dan Yayasan Tarakanita Yogyakarta ), Gedung Biara Trapis Rowoseneng Temanggung, Gereja Palasari Bali. Bahkan pada tahun 1963 Presiden Soekarno memesan untuk tempat peristirahatan terakhir Mgr. Albertus Soegijaprnata, SJ yang dimakamkan di TMP Giri Tunggal Semarang. Pertumbuhan bengkel ini cukup baik terbukti pesanan demi pesanan mengalir mengisi aktifitas di KK. Sejalan dengan kemajuan itu Br. Josef Haeken, SJ, selaku pemimpin KK menyadari bahwa para karyawannya kurang terampil baik dalam membaca gambar maupun dalam menjalankan mesin. Selain itu beliau merasa prihatin melihat banyak pemuda tidak punya pekerjaan. Timbulah ide untuk mendidik mereka supaya lebih baik dari segi pengetahuan dan ketrampilannya. Untuk merealisasikan gagasan itu maka didatangkanlah seorang ahli kayu dari Swiss yaitu Br. Paul Wiederkehr, SJ. Br. Paul Wiederkehr datang ke KK pada tahun 1963 dan melakukan pengamatan kondisi KK. Kesimpulannya adalah sekolah bisa berdiri kalau bagian produksi diperbesar kapasitasnya. Bagian produksi nantinya menjadi pendukung dana sekolah. Selama 7 tahun Br. Paul Wiederkehr ikut membesarkan KK, seiring keinginan itu datanglah pesanan perabot dari kedutaan Jerman, Vatican, Austria. Pesanan dari kedutaan itu cukup untuk memperbesar produksi KK, dari 23 karyawan menjadi 98 karyawan. Membesarnya kapasitas produksi KK membuka peluang mewujudkan pendidikan sekolah. Tahun 1968 sudah mulai dirintis pembukaan sekolah. Sekolah percobaan STKK dibuka tahun 1970. Dua tahun kemudian sekolah resmi dibuka. Br. Paul sebagai pimpinan dibantu oleh Bp. Susmadi ( yang kemudian menjadi kepala sekolah pertama tahun 1976 – 1993 ). Sedangkan Br. Haeken tetap sebagai pemimpin KK dan sekaligus pimpinan produksi KK. Br. Clemens Knaus, SJ seorang meister dalam bidang perabot datang dari Jerman membantu KK selama lima tahun sejak tahun 1970 – 1975. Pada tahun 1970 mulai dijalankan aktifitas pendidikan perkayuan ( sekolah menengah pertukangan kayu dan manajemen industri kayu ) disamping aktifitas produksinya. Tahun 1991 dibuka system penyebaran ilmu perkayuan lewat seminar-seminar dan lokakarya. Tahun 1992 pendidikan desain interior mulai dibuka di Pika dengan menerima lulusan SLTA dari manapun. Pada tahun 2000, Pater Drs. Y. Joko Tarkito, SJ, MA yang adalah alumnus PIKA angkatan VIII mulai dipercaya memimpin PIKA menggantikan Br. Paul Wiederkehr, SJ. Pada masa ini Pater Joko memimpin pada tahap pengembangan karya serta konsolidasi institusi dan menajemen. Sedangkan tahap sebelumnya yaitu tahap pendirian kelembagaan dan karya PIKA oleh Br. Haeken, tahap pendirian sekolah oleh Br. Paul Wiederkehr, SJ. Pada era kepemimpinan Pater Y. Joko, di bulan Juni tahun 2002 oleh pemerintah Indonesia dan Jerman, PIKA dipilih menjadi center dari program Indonesia German Institute di bidang pengolahan kayu. Guna mendukung kelangsungan program tersebut, dibelilah tanah seluas 2500 meter persegi di kompleks industri BSB Mijen Semarang. Bangunan baru tersebut dilengkapi dengan mesin-mesin otomatis dengan sistem CNC ( Computer Numerically Control ). Pada tahun yang sama pula PIKA mulai menapaki proses konsultasi pembenahan manajemen sesuai dengan kaidah manajemen ISO 9001 : 2000. Dan awal tahun 2003 PIKA mendapat sertifikat ISO 9001 : 2000 untuk bidang produksi dan bidang pendidikan serta pelatihannya. Mulai April 2003 PIKA juga menyelenggarakan sistem pendidikan modul 4 bulanan. PIKA sampai sekarang dipercaya oleh banyak institusi pemerintah maupun swasta atas kontribusinya dalam pengembangan teknologi pengolahan kayu dan pemanfaatan potensi alam serta sumber daya manusia di berbagai pelosok Indonesia . Pika juga mendapat beberapa tugas membantu dalam strategi pendidikan sistem ganda yang bisa mendukung institusi pendidikan itu sendiri secara finansial dan menghidupkan/menyemarakan praktek lapangan pada siswanya. Awal mula nama PIKA adalah “Kebun Kaju” (KK) yang dirintis sejak 25 maret 1953 oleh Br. Josef Haeken, SJ dibantu seorang pemuda R. Soermano (tangan kanan Br. Haeken, SJ) yang pada waktu itu berusia 22 tahun. KK semula hanya berupa bengkel penggergajian sederhana. Bengkel ini merupakan tempat untuk memperbaiki perabot dari sekolah misi, gereja dan biara – biara yang rusak akibat perang kemerdekaan. Dalam 10 tahun pertama pekerjaan datang dari sekolah-sekolah Yayasan Kanisius dan biara – biara Katolik. Kemudian pesanan dari pemborong bangunanpun silih berganti berdatangan masuk ke KK, mereka adalah : NEDAM Jakarta ( untuk pabrik Cambridge Medari Jogyakarta ), Ir. Tjoa Teng Kie ( untuk rumah gadai ), Bouw Maatschapy Randusari, Tan Hiem Hong ( untuk rumah retret sangkal putung Klaten ), perluasan rumah retret Girisonta Ungaran. Ir Liem Tiong Hien ( untuk susteran dan Yayasan Tarakanita Yogyakarta ), Gedung Biara Trapis Rowoseneng Temanggung, Gereja Palasari Bali. Bahkan pada tahun 1963 Presiden Soekarno memesan untuk tempat peristirahatan terakhir Mgr. Albertus Soegijaprnata, SJ yang dimakamkan di TMP Giri Tunggal Semarang. Pertumbuhan bengkel ini cukup baik terbukti pesanan demi pesanan mengalir mengisi aktifitas di KK. Sejalan dengan kemajuan itu Br. Josef Haeken, SJ, selaku pemimpin KK menyadari bahwa para karyawannya kurang terampil baik dalam membaca gambar maupun dalam menjalankan mesin. Selain itu beliau merasa prihatin melihat banyak pemuda tidak punya pekerjaan. Timbulah ide untuk mendidik mereka supaya lebih baik dari segi pengetahuan dan ketrampilannya. Untuk merealisasikan gagasan itu maka didatangkanlah seorang ahli kayu dari Swiss yaitu Br. Paul Wiederkehr, SJ. Br. Paul Wiederkehr datang ke KK pada tahun 1963 dan melakukan pengamatan kondisi KK. Kesimpulannya adalah sekolah bisa berdiri kalau bagian produksi diperbesar kapasitasnya. Bagian produksi nantinya menjadi pendukung dana sekolah. Selama 7 tahun Br. Paul Wiederkehr ikut membesarkan KK, seiring keinginan itu datanglah pesanan perabot dari kedutaan Jerman, Vatican, Austria. Pesanan dari kedutaan itu cukup untuk memperbesar produksi KK, dari 23 karyawan menjadi 98 karyawan. Membesarnya kapasitas produksi KK membuka peluang mewujudkan pendidikan sekolah. Tahun 1968 sudah mulai dirintis pembukaan sekolah. Sekolah percobaan STKK dibuka tahun 1970. Dua tahun kemudian sekolah resmi dibuka. Br. Paul sebagai pimpinan dibantu oleh Bp. Susmadi ( yang kemudian menjadi kepala sekolah pertama tahun 1976 – 1993 ). Sedangkan Br. Haeken tetap sebagai pemimpin KK dan sekaligus pimpinan produksi KK. Br. Clemens Knaus, SJ seorang meister dalam bidang perabot datang dari Jerman membantu KK selama lima tahun sejak tahun 1970 – 1975. Pada tahun 1970 mulai dijalankan aktifitas pendidikan perkayuan ( sekolah menengah pertukangan kayu dan manajemen industri kayu ) disamping aktifitas produksinya. Tahun 1991 dibuka system penyebaran ilmu perkayuan lewat seminar-seminar dan lokakarya. Tahun 1992 pendidikan desain interior mulai dibuka di Pika dengan menerima lulusan SLTA dari manapun. Pada tahun 2000, Pater Drs. Y. Joko Tarkito, SJ, MA yang adalah alumnus PIKA angkatan VIII mulai dipercaya memimpin PIKA menggantikan Br. Paul Wiederkehr, SJ. Pada masa ini Pater Joko memimpin pada tahap pengembangan karya serta konsolidasi institusi dan menajemen. Sedangkan tahap sebelumnya yaitu tahap pendirian kelembagaan dan karya PIKA oleh Br. Haeken, tahap pendirian sekolah oleh Br. Paul Wiederkehr, SJ. Pada era kepemimpinan Pater Y. Joko, di bulan Juni tahun 2002 oleh pemerintah Indonesia dan Jerman, PIKA dipilih menjadi center dari program Indonesia German Institute di bidang pengolahan kayu. Guna mendukung kelangsungan program tersebut, dibelilah tanah seluas 2500 meter persegi di kompleks industri BSB Mijen Semarang. Bangunan baru tersebut dilengkapi dengan mesin-mesin otomatis dengan sistem CNC ( Computer Numerically Control ). Pada tahun yang sama pula PIKA mulai menapaki proses konsultasi pembenahan manajemen sesuai dengan kaidah manajemen ISO 9001 : 2000. Dan awal tahun 2003 PIKA mendapat sertifikat ISO 9001 : 2000 untuk bidang produksi dan bidang pendidikan serta pelatihannya. Mulai April 2003 PIKA juga menyelenggarakan sistem pendidikan modul 4 bulanan. PIKA sampai sekarang dipercaya oleh banyak institusi pemerintah maupun swasta atas kontribusinya dalam pengembangan teknologi pengolahan kayu dan pemanfaatan potensi alam serta sumber daya manusia di berbagai pelosok Indonesia . Pika juga mendapat beberapa tugas membantu dalam strategi pendidikan sistem ganda yang bisa mendukung institusi pendidikan itu sendiri secara finansial dan menghidupkan/menyemarakan praktek lapangan pada siswanya.

Satu Tanggapan

  1. oooooooooooooooooooo We NNNNNDDDDDDDAAAAAAKKKKKKK YYYYYYYOOOOOOOO????????????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: