BELAJAR EFEKTIF MENGEJAR PRESTASI

Anak anda sering mengeluh kepada anda malas pergi ke sekolah?
Bagaimana anda menyikapinya?Apakah anda akan memarahi anak anda?Ataukah anda akan membiarkan anak anda membolos begitu saja?Dalam kasus ini peran orang tua khususnya, sangat penting sekali. Hal ini karena orang tualah orang yang pertama kali yang memiliki hubungan terdekat dengan anak, memiliki hubungan emosional yang secara tidak langsung dapat berpengaruh banyak terhadap sikap dan perilaku pada anak. Oleh karena itu orang tua sebaiknya memperoleh banyak sekali informasi tentang anak terutama tentang penyebab anak malas sekolah dan bagaimana cara menanggulinya.

Menurut Psikolog Desi Adriana dari Growth Consultan, anak malas sekolah sesuatu yang wajar terjadi. Rasa malas itu bisa muncul kapan saja. Baginya terpenting yang harus dilakukan orangtua jika anaknya menunjukkan tanda-tanda enggan ke sekolah, seperti malas bangun pagi, tak mau mengerjakan PR, pura-pura sakit dan lainnya, jangan langsung dimarahi. Tapi harus cari tahu penyebab anak demikian. Sebab jika malas sekolah terus terjadi dan orangtua tak tahu penyebabnya bisa-bisa anak makin malas sekolah atau bahkan membenci sekolah.

Banyak manfaat jika orangtua tahu penyebab anak bosan sekolah, anda jadi bisa menangani dan menyadarkan mereka pentingnya sekolah. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan orangtua untuk membangkitkan anak untuk mau sekolah lagi. Pertama cobalah beri gambaran pada anak bahwa sekolah sangat penting bagi kehidupanya kelak. Misalnya dengan mengatakan, “jika Adek ingin jadi dokter harus rajin sekolah, biar bisa mengobati mama kalau sakit.”

Selain itu, orangtua juga bisa mengambarkan bahwa sekolah adalah kegitan yang menyenangkan. Contohnya dengan mengatakan, di sekolah kamu bisa bertemu dan bermain teman-teman. Dengan banyak teman kalau kamu kesulitan banyak yang menolong. Di sekolah juga ada tempat bermain yang asyik yang nggak kamu temui di rumah.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak-anak malas ke sekolah dan sering bolos, di antaranya adalah :

Takut atau trauma dengan sesuatu
Penyebab dominan Anak-anak bolos dari sekolah adalah karena takut dengan gurunya atau ada teman yang merupakan musuhnya, Dia tidak mampu membela dirinya sendiri dan tidak berani mengadukannya kepada sekolah, atau juga anak takut menghadiri sebuah pelajaran yang dia merasa tidak mampu dalam mempelajarinya dan sebagainya.

Haus dengan perhatian
Kadang-kadang sifat aneh ini juga disebabkan karena kebutuhan pribadi anak yang dialami di rumahnya seperti diabaikan, tidak diperhatikan atau dikucilkan dari keluarganya dan sebegainya yang menyebabkannya lari dari sekolah dengan tujuan ingin diperhatikan oleh guru, teman dan orang tua. Dengan ini anak merasa bangga karena semua orang membicarakannya dan telah merasa diperhatikan.
Ketika itu anak tidak dapat memikirkan konsekwensi dari perbuatannya, yang dia lakukan karena semata-mata ingin mendapat perhatian saja.
Ya memang anak yang sudah menginjak usia remaja juga terkadang belum bisa memilih cara yang terbaik agar dia bisa diperhatikan.

Kekerasan orang tua
Keinginan orang tua terhadap anaknya sering tidak susuai dengan harapannya, terkadang metode yang diterapkannya kurang tepat dan bahkan salah, seperti sikap yang keras dari orang terhadap anaknya.
Anak-anak bisa kabur dan bolos dari sekolah inilah bukti konkrit dari itu semua, dia merasa bahwa dengan bolos inilah dia bisa membalas dendamnya kepada orangtua, karena dengan perbuatannya orang tua pasti akan merasa sedih dan sakit hati, si anak tidak memahami apa yang ada dibalik sikap kekerasan orang tuanya, tentunya tidak lain hanyalah kesuksesan dan keberuntungan.
Dengan ini kedua belah pihak sama-sama mendapatkan kerugian ; Anak tidak sukses sekolah dan orang tua juga gagal dalam mendidik anaknya.

Teman yang tidak baik
Mayoritas tingkah laku anak dan kepribadiannya dipengaruhi oleh factor teman, karena faktor teman kadang bisa lebih mendominasi dari pada peran orang tua.
Anak bisa bolos dari sekolah lantaran ajakan temannya yang mengatakan bahwa bolos itu merupakan refleksi dari ke-gantle-an dan kebebasan. Betapa indahnya bagi mereka yang bisa keluar dari sekolah pada jam belajar untuk menikmati indahnya alam dan cerahnya terbitan matahari.
Sikap anak-anak yang seperti ini akan sangat mudah ditiru oleh teman-temannya, adakalanya karena ingin menikmati hal yang sama, atau juga takut dibilang pengecut karena tidak berani bolos sekolah.

Kemalasan siswa masuk sekolah pasti akan mempunyai akibat yang buruk bagi perkembangan anak terutama bagi prestasi dan masa depan mereka tentunya. Jika anak tidak masuk ke sekolah secara terus menerus otomatis ia akan ketinggalan mata pelajaran yang dia ikuti sehingga itu akan berdampak pada menurunya nilai prestasinya di kelas dan jika itu dibiarkan bisa-bisa anak anda bisa tidak naik kelas dan yang paling terburuk masa depan anak anda menjadi suram yang disebabkan karena anak anda tinggal kelas. Tentu saja hal itu tidak pernah anda harapkan sebagai orang tua bukan?

Upaya penanggulangannya :

Mempelajari dan memahami kondisi anak
Untuk mengetahui sebab-sebab malasnya anak ke sekolah dan sering kabur dari sekolah tidak cukup hanya dengan menanyakan sebabnya. Maka kadang-kadang anak sudah pandai berdalih dengan apa saja dan berbohong agar perkara tersebut cepat selesai dan tidak dipermasalahkan lagi, namun kedua orang tua juga harus memahami kondisi psikologis anak.
Dengan demikian hendaklah kedua orang tua datang ke sekolah menanyakan kondisi anaknya di sekolah seperti apa, karena siapa tahu sekolah bisa mengetahui problem yang sedang dihadapi anak atau juga teman-temannya.
Menyikapi anak seperti ini haruslah dengan sikap lembut dan penuh kasih sayang agar anak berani menungkapkan yang sebenarnya alasan dia sering bolos dan atau melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak baik.

Bijaksana dan bertahap
Untuk menyembuhkan anak dari penyakit seperti ini sangatlah dibutuhkan kesabaran dan kebijaksanaan, jangan terburu-buru, khawatir akibatnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, akan tetapi dengan memberikan pemahaman kepada anak, bahwa apa yang telah dilakukannya di sekolah adalah tidak baik.
Dengan cara seperti ini saja terkadang anak belum bisa menerima dan langsung memahami namun memang butuh proses sampai anak betul-betul bisa memahami dan menilai segala yang dilakukannya.
Contohnya : Anak yang sering kabur dari sekolah dengan motif ingin mendapatkan kemerdekaan dan kebebasan, sesungguhnya dia justru akan mendapatkan sesuatu yang sebaliknya.
Dengan bolos dia akan terus tertinggal di sekolah , sehingga butuh waktu yang lebih lama lagi untuk menyelesaikan sekolahnya, namun jika dia rajin dan patuh dengan peraturan sekolah, dia akan cepat mendapat kebebasan itu, karena sekolahnya cepat selesai.
Dengan demikian, janganlah kedua orang tua terlalu membelenggu kebebasan anak sehingga anak merasa dikekang, namun berikanlah kebebasan yang layak kepadanya.

Menghindari sikap kasar dan keras
Salah kaprah orang yang mengartikan kekerasan itu adalah cara yang paling ideal untuk memperbaiki anak, namun realitanya justru sebaliknya, sebgaiamana yang telah dijealskan di atas.
Terlebih lagi sesuatu yang berkaitan dengan sekolah janganlah sekali-kali memakai pendekatan seperti ini, haruslah dengan lemah lembut, perhatian dan kasih saying. Sebagaimana dibutuhkan juga untuk memberikan pemahaman dan tidak membedakan satu sama lain, menyediakan waktu luang untuk berbagi cerita, memberikan hadiah atas keberhasilan anak di sekolah yang telah berusaha sungguh-sungguh dan terus memotifasinya.

Peraturan sekolah terhadap Siswa :

Kenapa siswa dilarang memiliki rambut panjang? kenapa kenapa baju gak boleh dikeluarin?
apakah rambut itu mempengaruhi kepribadian? apakah baju itu mempengaruhi IQ seseorang?
seorang teman saya bertanya pada saya,”kenapa sih aku gak boleh ikut pelajaran penjas?apakah karena badanku gendut sehingga tak punya ukuran baju?”.

Ternyata sang pengajar melarangnya ikut olah raga karena dia tidak memakai baju olahraga. apakah baju itu lebih berharga daripada niat tulus untuk belajar?? saya bingung sebenarnya apasih peraturan itu? sederet kalimat yang ada kata “diwajibkan” dan “sanksi”, yang dibuat agar siswa teratur,disiplin,patuh,sopan. tapi itu hanya sisi positifnya saja…

Tentu peraturan dibuat bukan untuk dilanggar. tetapi,sebagian siswa merasa harus merubah aturan yang dianggap kurang bermutu itu. tak semua siswa berambut panjang itu bodoh atau nakal,karena rambut tak mempengaruhi akal pikiran.meskipun ia botak kalau memang nakal ya tetap nakal,meskipun rambutnya panjang tapi kalau asalnya pintar ya pintar.tahukah… mereka yang kurang PeDe akan rambutnya akan malas turun kesekolah karena malu dengan rambutnya yang tak cocok apabila dicukur pendek = mereka akan belajar bolos.bolos itu tak hanya disebabkan oleh faktor malas tetapi juga malu.itu semua akibat ATURAN.

Begitupun dengan seragam yang hanya menjadi logo/formalitas belaka. siswa yang ingin sekolah diharuskan memakai seragam lengkap dengan atributnya.
mengapa orang barat dan jepang yang tak memakai seragam dan gondrong2 rambutnya bisa menguasai dunia dengan kepintarannya. banyak orang yang rapi,disiplin,pandai menjadi musuh masyarakat/koruptor.itu semua hanya topeng belaka, jangan mendidik siswa dengan topeng.
andai saja peraturannya seperti ini,”SISWA YANG INGIN SEKOLAH DIWAJIBKAN MEMILIKI NIAT INGIN BELAJAR YANG IKHLAS”.

seakan-akan niat tulus itu tak berarti apa-apa dibandingkan bp3 dan seragam sekolah.
itu sebabnya banyak siswa nakal menjadi pembangkang,karena mereka sekolah tidak didasari niat itu tadi.

Beberapa penyebab perilaku siswa yang indisiplin, sebagai berikut :

  1. Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh guru
  2. Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh sekolah; kondisi sekolah yang kurang menyenangkan, kurang teratur, dan lain-lain dapat menyebabkan perilaku yang kurang atau tidak disiplin.
  3. Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh siswa , siswa yang berasal dari keluarga yang broken home.
  4. Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh kurikulum, kurikulum yang tidak terlalu kaku, tidak atau kurang fleksibel, terlalu dipaksakan dan lain-lain bisa menimbulkan perilaku yang tidak disiplin, dalam proses belajar mengajar pada khususnya dan dalam proses pendidikan pada umumnya.

Sehubungan dengan permasalahan di atas, seorang guru harus mampu menumbuhkan disiplin dalam diri siswa, terutama disiplin diri. Dalam kaitan ini, guru harus mampu melakukan hal-hal sebagai berikut :

  1. Membantu siswa mengembangkan pola perilaku untuk dirinya; setiap siswa berasal dari latar belakang yang berbeda, mempunyai karakteristik yang berbeda dan kemampuan yang berbeda pula, dalam kaitan ini guru harus mampu melayani berbagai perbedaan tersebut agar setiap siswa dapat menemukan jati dirinya dan mengembangkan dirinya secara optimal.
  2. Membantu siswa meningkatkan standar prilakunya karena siswa berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda, jelas mereka akan memiliki standard prilaku tinggi, bahkan ada yang mempunyai standard prilaku yang sangat rendah. Hal tersebut harus dapat diantisipasi oleh setiap guru dan berusaha meningkatkannya, baik dalam proses belajar mengajar maupun dalam pergaulan pada umumnya.
  3. Menggunakan pelaksanaan aturan sebagai alat; di setiap sekolah terdapat aturan-aturan umum. Baik aturan-aturan khusus maupun aturan umum. Perturan-peraturan tersebut harus dijunjung tinggi dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, agar tidak terjadi pelanggaran-pelanggaran yang mendorong perilaku negatif atau tidak disiplin.

Selanjutnya, Brown dan Brown mengemukakan pula tentang pentingnya disiplin dalam proses pendidikan dan pembelajaran untuk mengajarkan hal-hal sebagai berikut :

  1. Rasa hormat terhadap otoritas/ kewenangan; disiplin akan menyadarkan setiap siswa tentang kedudukannya, baik di kelas maupun di luar kelas, misalnya kedudukannya sebagai siswa yang harus hormat terhadap guru dan kepala sekolah.
  2. Upaya untuk menanamkan kerja sama; disiplin dalam proses belajar mengajar dapat dijadikan sebagai upaya untuk menanamkan kerjasama, baik antara siswa, siswa dengan guru, maupun siswa dengan lingkungannya.
  3. Kebutuhan untuk berorganisasi; disiplin dapat dijadikan sebagai upaya untuk menanamkan dalam diri setiap siswa mengenai kebutuhan berorganisasi.
  4. Rasa hormat terhadap orang lain; dengan ada dan dijunjung tingginya disiplin dalam proses belajar mengajar, setiap siswa akan tahu dan memahami tentang hak dan kewajibannya, serta akan menghormati dan menghargai hak dan kewajiban orang lain.
  5. Kebutuhan untuk melakukan hal yang tidak menyenangkan; dalam kehidupan selalu dijumpai hal yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan. Melalui disiplin siswa dipersiapkan untuk mampu menghadapi hal-hal yang kurang atau tidak menyenangkan dalam kehidupan pada umumnya dan dalam proses belajar mengajar pada khususnya.

Peluang Usaha Kayu

Tak semua limbah berujung di tempat sampah. Di tangan orang yang jeli lagi kreatif, bahan limbah bekas industri mebel kayu dan kulit padi kering mampu menghasilkan kerajinan yang menarik. Karena tak ada biaya bahan baku, usaha kerajinan ini mendatangkan fulus yang lumayan.

Kreatif dan jeli melihat peluang bisnis adalah modal yang dibutuhkan seorang pelaku usaha. Salah seorang perajin asal Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, memanfaatkan limbah kayu dan kulit padi yang banyak tersedia di daerahnya.

Memakai bendera Galuh Kirana, Maryuki mulai menggeluti kerajinan berbahan limbah ini sejak 2006 silam. Dia hanya menggelontorkan modal Rp 100.000. Sebagian duit ini ia gunakan untuk mengongkosi temannya yang merakit alat penghalus atau pengamplas bertenaga listrik. “Bahan limbah tak perlu beli karena di tempat saya banyak dan dibuang-buang,” terang Maryuki.

Ide membuat kerajinan berbahan limbah muncul kala ada pelanggan yang meminta Maryuki membuatkan barang kerajinan. Pelanggan ini merupakan bekas pelanggan keramik buatan Maryuki. Ya, sebelum terjun di kerajinan berbahan limbah, Maryuki menekuni kerajinan keramik sejak 1998. Namun, karena permintaan keramik tidak bagus, usaha ini berhenti.

Nah, melihat di sekitar rumahnya banyak serutan kayu limbah usaha mebel, Maryuki memiliki ide untuk memanfaatkan limbah tersebut. Selain kayu, ia juga bereksperimen membuat kerajinan dari kulit beras atau gabah kering. Maryuki mendapatkan semua bahan-bahan ini secara cuma-cuma.

Selain limbah kayu atau gabah, Maryuki butuh resin dan sedikit palk. Untuk membuat patung, misalnya, langkah pertama, ia membuat cetakan memakai bahan silikon, lengkap dengan detil-detilnya.

Kemudian bahan resin yang telah dicampur dengan sedikit palk dicetak menggunakan cetakan berbahan silikon tersebut. Sementara, bahan limbah berupa serutan kayu atau gabah tadi dituang ke dalam patung tersebut agar patung padat dan tak berlubang. Patung dengan tema Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan pesawat tempur merupakan salah satu patung andalan Maryuki.

Selain patung, Maryuki juga suka membikin relief dan asbak. Untuk asbak, Maryuki memilih bahan resin yang transparan agar tekstur bahan limbah yang ada di dalamnya tetap terlihat.

Kini, Maryuki mempekerjakan lima karyawan dan sejumlah pekerja tidak tetap yang berasal dari kalangan remaja karang taruna dan pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang sedang magang. Ia membayar tenaga kerja ini antara Rp 15.000 sampai Rp 25.000 per hari.

Harga jual produk Maryuki cukup bervariasi. Harga patung yang tersedia dalam tiga ukuran tinggi, yakni 10 centimetar (cm), 30 cm, dan 40 cm, antara Rp 5.000 sampai Rp 40.000 per unit. Sementara produk relief dan asbak dijual antara Rp 10.000 sampai Rp 30.000 per unit.

Maryuki menjual barang-barang produksinya ini kepada bekas pelanggan keramiknya yang tersebar di Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Dalam sebulan, Maryuki bisa memproduksi patung prajurit TNI ukuran sedang sampai 500 unit. Jika ditotal dengan ukuran yang lain plus kerajinan di luar patung, produksi barang per bulan mencapai ribuan unit.

Dengan hanya menghitung hasil penjualan patung ukuran sedang saja, per bulan, Maryuki mampu menangguk omzet hingga Rp 12,5 juta. Ini dengan asumsi Maryuki menjual patung itu seharga Rp 25.000. “Keuntungan saya maksimal sepertiganya,” aku pria lulusan Sekolah Menengah Seni rupa (SMSR), Yogyakarta ini.

Sejauh ini, Maryuki mengaku, kendala utama yang ia hadapi adalah keterbatasan modal. Pria yang hobi fotografi ini memendam keinginan untuk mengembangkan usahanya. Dia berkeinginan menempatkan produknya di sejumlah toko-toko suvenir di Yogyakarta dengan sistem bagi hasil atau konsinyasi.

punk

Punk’s bicara tentanng kebersamaan
Yang membuat kita bersatu dan kuat
Punk bicara tentang kebebasan
Kontrol diri tanpa norma yang menjerat

Generasi punk yang merah membara
Mengharap dukungan kita semua
Kebersamaan yang kita jalankan
Kan membuat mengerti semua

Punk’s bicara tentang kebersamaan
Punk bicara tentang kebebasan

Oi!….setelah sekian lama vakum tidak muncul di dunia blog maksudnya tidak pernah nulis lagi, hee…. kini hadir dengan tulisan baru. Ya, kali ini saya akan menulis tentang kebersamaan dalam komunitas ANAK PUNK menurut pandangan saya sendiri. Saya tertarik dengan masalah ini setelah saya mendengarkan dan membaca lirik lagu dari band PUNK ROCK bernama BUNGA HITAM, salah astu band dari kota Jakarta.
Punk pertama lahir di negara Inggris sekitar tahun 1960an, ketika terjadi revolusi industri. Keberadaan punk lahir ketika itu adalah sebagai bentuk tindakan penolakkan terhadap segala macam penindasan yang banyak terjadi terutama dikalangan masyarakat kelas bawah atau pekerja. Orang biasanya mengenal anak punk hanya dari dandanannya yang unik, beda dari yang lain, seperti baju kumal, jaket berspike, celana ketat, sepatu boots dan berambut mohawak ala kaum Indian.

Banyak yang beranggapan bahwa anak punk yang berpenampilan seperti itu selalu berandalan, perusuh dan selalu bikin onar. Orang yang berpandangan seperti itu terhadap anak punk yang suka nongkrong di pinggir jalan biasanya hanya memandang dari segi luar mereka atau dari dandanan yang menyeramkan. Jika kita mengenal lebih dalam tentang anak punk tidaklah semua anak punk yang selalu berpenampilan beda itu selalu bersikap berandalan.

Coba kita baca dan dengarkan lagu dari band punk rock Jakarta bernama Bunga Hitam yang berjudul “DUKUNG YANG BERIKUTNYA” lirik lagu tersebut menceritakan bagaimana kebersamaan dan kebebasan menurut pandangan anak punk. Lagu tersebut mengisahkan tentang kebersamaan dari komunitas punk, mereka ( anak punk ) menganggap bahwa semua anak punk adalah kawan dan bersaudar tanpa ada senioritas dan junioritas. Semua sama dan sejajar / setara, punk menganggap kebersamaan sesama anak punk satu sama lain akan membuat mereka bersatu dan lebih kuat.

Sedangkan kebebasan bagi anak punk adalah kebebasan untuk mengatur dan mengontrol dari dirinya sendiri. Jadi segala sesuatu muncul dari kesadaran diri sendiri untuk bertindak dan berbuat sesuatu. Biasanya jika mereka sudah berfikir seperti itu anak punk akan bekerja berdasarkan inisiatif dari diri sendiri dan tidak perlu diatur dan mengatur orang lain. Pola pikir seperti itu akan menimbulkan sikap mandiri seseorang, yang dalam komunitas punk mereka biasa memakai filosofis dan semboyan DIY (Do It Yourself ) atau biasa diartikan “jadilah dirimu sendiri”. Itulah salah satu nilai positif dari punk yang bisa saya ambil yaitu kebersamaan dan kemandirian dalam melakukan sesuatu. Jadi kebebasan tidaklah diartikan sebagai tindakan semaunya sendiri akan tetapi kebebasan bertindak tapi juga harus bisa mengontrol diri sendiri agar tidak merugikan diri sendiri dan merusak orang lain.

Emo.!!!

Emo merupakan jenis musik yang masih serumpun dengan punk. Emo sendiri banyak yang menyebutkan berasal dari kata emotion, emotional, atau emotive.

Selain Story of The Year, band-band asing lainnya yang termasuk kategori beraliran emo yaitu Dashboard Confessional, Finch, The Used, Rufio, Thrice, Silverstein, Brand New, Early November, Good Charlotte, Funeral For A Friend, Matchbox Romance, All American Reject, Ataris, dll. Beberapa dari band tersebut ada yang tidak mau menyebutkan diri mereka sebagai band beraliran emo, mereka lebih suka menyebutkan mereka hanya memainkan musik punk rock dengan sedikit sentuhan pop.

Emo identik dengan musik yang berlirik puitis, melankolis, berarti dalam, mengandung banyak kemarahan dan kesedihan tentang kematian, keinginan untuk bunuh diri, ditinggal kekasih, hidup yang susah atau tentang keluarga yang broken home. Lirik-lirik tadi biasanya disuarakan dengan teriakan yang keras, yang menggambarkan kesedihan mereka.

Band-band emo banyak menggunakan suara-suara gitar yang kompleks dalam lagu mereka, namun tidak jarang yang hanya menggunakan gitar akustik saja. Dibanding musik punk, musik emo seringkali lebih soft dan lambat, atau musik emo mirip dengan musik pop-punk namun sedikit lebih rumit. Ciri khas dari aliran ini yaitu teriakan atau growl yang keras dari vokalisnya untuk lebih mendapatkan soul emosional dari lagu yang mereka bawakan. Ada juga yang menyebutkan emo kepanjangan dari emocore.

Tapi emocore sendiri sebenarnya bisa dikatakan aliran yang berbeda dengan emo. Emocore merupakan campuran antara emopunk dan hardcore. Mungkin bisa disebut juga musik hardcore dengan lirik yang emosional. A Static Lulaby, Underoath, serta Saosin adalah sedikit dari banyak band yang beraliran emocore. Dari segi musikalitas, sulit dibedakan antara musik emo dengan emocore. Bahkan jika didengar secara selintas, nyaris nggak ada beda. Jadi agak rancu juga menyebutkan perbedaan emo dengan emocore. Membedakan antara musik emo dengan punk rock juga cukup sulit, akibatnya orang seringkali menjadi bingung untuk membedakan antara emo, punk, dan hardcore. Hal ini dipersulit dengan kebiasaan beberapa band yang nggak hanya memainkan satu jenis musik saja, namun mereka sudah teranjur terikat dengan image suatu jenis musik yang biasa mereka mainkan. Maka bila band tersebut memainkan jenis musik yang berbeda maka tidak jarang orang menjadi bingung dan menganggap jenis musik yang mereka mainkan itu sama.

Padahal, sah-sah saja kan bila satu band ingin berganti aliran. Untuk ukuran lokal, yang banyak memainkan jenis musik emo ini adalah band-band indie, tapi ada beberapa band yang udah masuk major label yang musiknya kental dengan corak emo. Di Bandung, band atau grup musik yang mempunyai aliran dekat dengan emo contohnya adalah Bugskin Bugle, Alone At Last, juga Disconnected. Emo saat ini sudah menjadi gaya hidup. Gaya anak-anak emo di Amerika disebut emo fag. Di Indonesia sendiri banyak anak muda yang meniru style band-band asing yang beraliran emo, mulai dari dandanan, gaya berpakaian, atau tingkah laku. Gaya anak emo merupakan campuran antara gothic, punk dan genre musik lainnya. Berpakaian ala punk, atau memakai kaos yang bertuliskan nama band, piercing, rambut spiffy dengan mata bermaskara, dan memakai eye liner hitam yang tebal. Untuk aksesori banyak juga yang memakai kacamata yang berframe plastik hitam.

PIKA adalah “Kebun Kaju” (KK) yang dirintis sejak 25 maret 1953 oleh Br. Josef Haeken, SJ dibantu seorang pemuda R. Soermano (tangan kanan Br. Haeken, SJ) yang pada waktu itu berusia 22 tahun. KK semula hanya berupa bengkel penggergajian sederhana. Bengkel ini merupakan tempat untuk memperbaiki perabot dari sekolah misi, gereja dan biara – biara yang rusak akibat perang kemerdekaan. Dalam 10 tahun pertama pekerjaan datang dari sekolah-sekolah Yayasan Kanisius dan biara – biara Katolik. Kemudian pesanan dari pemborong bangunanpun silih berganti berdatangan masuk ke KK, mereka adalah : NEDAM Jakarta ( untuk pabrik Cambridge Medari Jogyakarta ), Ir. Tjoa Teng Kie ( untuk rumah gadai ), Bouw Maatschapy Randusari, Tan Hiem Hong ( untuk rumah retret sangkal putung Klaten ), perluasan rumah retret Girisonta Ungaran. Ir Liem Tiong Hien ( untuk susteran dan Yayasan Tarakanita Yogyakarta ), Gedung Biara Trapis Rowoseneng Temanggung, Gereja Palasari Bali. Bahkan pada tahun 1963 Presiden Soekarno memesan untuk tempat peristirahatan terakhir Mgr. Albertus Soegijaprnata, SJ yang dimakamkan di TMP Giri Tunggal Semarang. Pertumbuhan bengkel ini cukup baik terbukti pesanan demi pesanan mengalir mengisi aktifitas di KK. Sejalan dengan kemajuan itu Br. Josef Haeken, SJ, selaku pemimpin KK menyadari bahwa para karyawannya kurang terampil baik dalam membaca gambar maupun dalam menjalankan mesin. Selain itu beliau merasa prihatin melihat banyak pemuda tidak punya pekerjaan. Timbulah ide untuk mendidik mereka supaya lebih baik dari segi pengetahuan dan ketrampilannya. Untuk merealisasikan gagasan itu maka didatangkanlah seorang ahli kayu dari Swiss yaitu Br. Paul Wiederkehr, SJ. Br. Paul Wiederkehr datang ke KK pada tahun 1963 dan melakukan pengamatan kondisi KK. Kesimpulannya adalah sekolah bisa berdiri kalau bagian produksi diperbesar kapasitasnya. Bagian produksi nantinya menjadi pendukung dana sekolah. Selama 7 tahun Br. Paul Wiederkehr ikut membesarkan KK, seiring keinginan itu datanglah pesanan perabot dari kedutaan Jerman, Vatican, Austria. Pesanan dari kedutaan itu cukup untuk memperbesar produksi KK, dari 23 karyawan menjadi 98 karyawan. Membesarnya kapasitas produksi KK membuka peluang mewujudkan pendidikan sekolah. Tahun 1968 sudah mulai dirintis pembukaan sekolah. Sekolah percobaan STKK dibuka tahun 1970. Dua tahun kemudian sekolah resmi dibuka. Br. Paul sebagai pimpinan dibantu oleh Bp. Susmadi ( yang kemudian menjadi kepala sekolah pertama tahun 1976 – 1993 ). Sedangkan Br. Haeken tetap sebagai pemimpin KK dan sekaligus pimpinan produksi KK. Br. Clemens Knaus, SJ seorang meister dalam bidang perabot datang dari Jerman membantu KK selama lima tahun sejak tahun 1970 – 1975. Pada tahun 1970 mulai dijalankan aktifitas pendidikan perkayuan ( sekolah menengah pertukangan kayu dan manajemen industri kayu ) disamping aktifitas produksinya. Tahun 1991 dibuka system penyebaran ilmu perkayuan lewat seminar-seminar dan lokakarya. Tahun 1992 pendidikan desain interior mulai dibuka di Pika dengan menerima lulusan SLTA dari manapun. Pada tahun 2000, Pater Drs. Y. Joko Tarkito, SJ, MA yang adalah alumnus PIKA angkatan VIII mulai dipercaya memimpin PIKA menggantikan Br. Paul Wiederkehr, SJ. Pada masa ini Pater Joko memimpin pada tahap pengembangan karya serta konsolidasi institusi dan menajemen. Sedangkan tahap sebelumnya yaitu tahap pendirian kelembagaan dan karya PIKA oleh Br. Haeken, tahap pendirian sekolah oleh Br. Paul Wiederkehr, SJ. Pada era kepemimpinan Pater Y. Joko, di bulan Juni tahun 2002 oleh pemerintah Indonesia dan Jerman, PIKA dipilih menjadi center dari program Indonesia German Institute di bidang pengolahan kayu. Guna mendukung kelangsungan program tersebut, dibelilah tanah seluas 2500 meter persegi di kompleks industri BSB Mijen Semarang. Bangunan baru tersebut dilengkapi dengan mesin-mesin otomatis dengan sistem CNC ( Computer Numerically Control ). Pada tahun yang sama pula PIKA mulai menapaki proses konsultasi pembenahan manajemen sesuai dengan kaidah manajemen ISO 9001 : 2000. Dan awal tahun 2003 PIKA mendapat sertifikat ISO 9001 : 2000 untuk bidang produksi dan bidang pendidikan serta pelatihannya. Mulai April 2003 PIKA juga menyelenggarakan sistem pendidikan modul 4 bulanan. PIKA sampai sekarang dipercaya oleh banyak institusi pemerintah maupun swasta atas kontribusinya dalam pengembangan teknologi pengolahan kayu dan pemanfaatan potensi alam serta sumber daya manusia di berbagai pelosok Indonesia . Pika juga mendapat beberapa tugas membantu dalam strategi pendidikan sistem ganda yang bisa mendukung institusi pendidikan itu sendiri secara finansial dan menghidupkan/menyemarakan praktek lapangan pada siswanya. Awal mula nama PIKA adalah “Kebun Kaju” (KK) yang dirintis sejak 25 maret 1953 oleh Br. Josef Haeken, SJ dibantu seorang pemuda R. Soermano (tangan kanan Br. Haeken, SJ) yang pada waktu itu berusia 22 tahun. KK semula hanya berupa bengkel penggergajian sederhana. Bengkel ini merupakan tempat untuk memperbaiki perabot dari sekolah misi, gereja dan biara – biara yang rusak akibat perang kemerdekaan. Dalam 10 tahun pertama pekerjaan datang dari sekolah-sekolah Yayasan Kanisius dan biara – biara Katolik. Kemudian pesanan dari pemborong bangunanpun silih berganti berdatangan masuk ke KK, mereka adalah : NEDAM Jakarta ( untuk pabrik Cambridge Medari Jogyakarta ), Ir. Tjoa Teng Kie ( untuk rumah gadai ), Bouw Maatschapy Randusari, Tan Hiem Hong ( untuk rumah retret sangkal putung Klaten ), perluasan rumah retret Girisonta Ungaran. Ir Liem Tiong Hien ( untuk susteran dan Yayasan Tarakanita Yogyakarta ), Gedung Biara Trapis Rowoseneng Temanggung, Gereja Palasari Bali. Bahkan pada tahun 1963 Presiden Soekarno memesan untuk tempat peristirahatan terakhir Mgr. Albertus Soegijaprnata, SJ yang dimakamkan di TMP Giri Tunggal Semarang. Pertumbuhan bengkel ini cukup baik terbukti pesanan demi pesanan mengalir mengisi aktifitas di KK. Sejalan dengan kemajuan itu Br. Josef Haeken, SJ, selaku pemimpin KK menyadari bahwa para karyawannya kurang terampil baik dalam membaca gambar maupun dalam menjalankan mesin. Selain itu beliau merasa prihatin melihat banyak pemuda tidak punya pekerjaan. Timbulah ide untuk mendidik mereka supaya lebih baik dari segi pengetahuan dan ketrampilannya. Untuk merealisasikan gagasan itu maka didatangkanlah seorang ahli kayu dari Swiss yaitu Br. Paul Wiederkehr, SJ. Br. Paul Wiederkehr datang ke KK pada tahun 1963 dan melakukan pengamatan kondisi KK. Kesimpulannya adalah sekolah bisa berdiri kalau bagian produksi diperbesar kapasitasnya. Bagian produksi nantinya menjadi pendukung dana sekolah. Selama 7 tahun Br. Paul Wiederkehr ikut membesarkan KK, seiring keinginan itu datanglah pesanan perabot dari kedutaan Jerman, Vatican, Austria. Pesanan dari kedutaan itu cukup untuk memperbesar produksi KK, dari 23 karyawan menjadi 98 karyawan. Membesarnya kapasitas produksi KK membuka peluang mewujudkan pendidikan sekolah. Tahun 1968 sudah mulai dirintis pembukaan sekolah. Sekolah percobaan STKK dibuka tahun 1970. Dua tahun kemudian sekolah resmi dibuka. Br. Paul sebagai pimpinan dibantu oleh Bp. Susmadi ( yang kemudian menjadi kepala sekolah pertama tahun 1976 – 1993 ). Sedangkan Br. Haeken tetap sebagai pemimpin KK dan sekaligus pimpinan produksi KK. Br. Clemens Knaus, SJ seorang meister dalam bidang perabot datang dari Jerman membantu KK selama lima tahun sejak tahun 1970 – 1975. Pada tahun 1970 mulai dijalankan aktifitas pendidikan perkayuan ( sekolah menengah pertukangan kayu dan manajemen industri kayu ) disamping aktifitas produksinya. Tahun 1991 dibuka system penyebaran ilmu perkayuan lewat seminar-seminar dan lokakarya. Tahun 1992 pendidikan desain interior mulai dibuka di Pika dengan menerima lulusan SLTA dari manapun. Pada tahun 2000, Pater Drs. Y. Joko Tarkito, SJ, MA yang adalah alumnus PIKA angkatan VIII mulai dipercaya memimpin PIKA menggantikan Br. Paul Wiederkehr, SJ. Pada masa ini Pater Joko memimpin pada tahap pengembangan karya serta konsolidasi institusi dan menajemen. Sedangkan tahap sebelumnya yaitu tahap pendirian kelembagaan dan karya PIKA oleh Br. Haeken, tahap pendirian sekolah oleh Br. Paul Wiederkehr, SJ. Pada era kepemimpinan Pater Y. Joko, di bulan Juni tahun 2002 oleh pemerintah Indonesia dan Jerman, PIKA dipilih menjadi center dari program Indonesia German Institute di bidang pengolahan kayu. Guna mendukung kelangsungan program tersebut, dibelilah tanah seluas 2500 meter persegi di kompleks industri BSB Mijen Semarang. Bangunan baru tersebut dilengkapi dengan mesin-mesin otomatis dengan sistem CNC ( Computer Numerically Control ). Pada tahun yang sama pula PIKA mulai menapaki proses konsultasi pembenahan manajemen sesuai dengan kaidah manajemen ISO 9001 : 2000. Dan awal tahun 2003 PIKA mendapat sertifikat ISO 9001 : 2000 untuk bidang produksi dan bidang pendidikan serta pelatihannya. Mulai April 2003 PIKA juga menyelenggarakan sistem pendidikan modul 4 bulanan. PIKA sampai sekarang dipercaya oleh banyak institusi pemerintah maupun swasta atas kontribusinya dalam pengembangan teknologi pengolahan kayu dan pemanfaatan potensi alam serta sumber daya manusia di berbagai pelosok Indonesia . Pika juga mendapat beberapa tugas membantu dalam strategi pendidikan sistem ganda yang bisa mendukung institusi pendidikan itu sendiri secara finansial dan menghidupkan/menyemarakan praktek lapangan pada siswanya.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!